perjalanan ini, bagi saya seperti sebuah hadiah saya menjalani penuh dengan rasa bahagia seperti seorang anak yang baru saja mendapatkan hadiah yang sudah lama diimpikan bahkan saya masih diberikan kesempatan untuk terus terus meminta, lagi dan lagi sampai sampai saya jarang bersedih, jarang terharu, dan jarang terisak, karena hati terus berbunga bunga karena semua pemberian Nya, semua jamuan Nya, apapun keadaannya sangat saya nikmati sebelumnya baik di nabawi arafah atau di haram, saya banyak banyak berdoa. untuk diri ini, keluarga, dan orang terdekat. tapi di mina saya lebih banyak istighfar, dzikir, dan takbiran. Entah rasanya di mina ini hati menjadi lebih intim dengan Allah, seperti hanya ada saya dengan Allah saja dan sampailah diakhir perjalanan. tangis itu langsung pecah begitu saja di jamarat. tanpa bisa dibendung lagi ternyata saya hanyalah seorang hamba yang masih suka merengek minta ijin pak ustad untuk silaturahmi ke tenda mbak firo ~ rekan pumping asi dulu di kantor 💪. j...
“Ayo mbak, kita berdoa diluar aja, Allah ada diluar” dibawah naungan bayangan, angin panas semilir, ba’da waktu ashar, memulai dengan dzikir petang sebelum lanjut berdoa sampailah dibacaan: “Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu petang ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arys-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau semata,” auto berhenti dzikir dan berdoa: “Ya Allah, jadikanlah hamba orang yang hari ini Engkau banggakan dihadapan malaikat malaikat Mu.” berulang ulang, berulang ulang, berulang ulang