Langsung ke konten utama

Hedonisme-Ku


Sebulan ngobrak-ngabrik rumah, nemu banyak buku yang dikumpulin dari zaman SMP. Gak kerasa, ternyata sudah lebih dari 100 buku yang terkumpul. Itupun belum termasuk komik-komik series dan majalah-majalah National Geographic.

Kalau di perhatikan, ternyata selera bisa berubah seiring dengan bertambahnya umur. Jaman SMP, hobby banget mengkoleksi komik dan bacaan novel ringan macam Teen-Lit (Teenage Literature). Penulis Teen-Lit favorit yang paling juara, siapa lagi kalau bukan Meg Cabot. Bahkan novelnya saja sudah difilmkan oleh Walt Disney Picture, dengan judul yang sama “Princess Diaries”.

Beranjak SMA, mulai nge-trend novel-novel fantasi. Gak mau ketinggalan, semua seri perjalanan Harry Potter, dengan sabar saya kumpulkan bahkan sampai saya kuliah semester VII. The Lord of The Ring sukses jadi novel fantasi favorit saya mengalahkan buku karangan J.K. Rowling tersebut.

Mulai kuliah, beranjak ke genre novel-novel misteri karya Dan Brown. Sekali baca, semakin bikin penasaran, dan malahan bikin saya ikut menebak-nebak, siapa yang jahat, apa motifnya, apa jawabannya, dan lain-lain. Selain novel misteri, bacaan lainnya yang agak berat adalah novel ber-genre psikologi social.Novel tipe ini mengajak kita untuk ikut berfikir, dan terkadang membuka wawasan dan pemahaman kita, serta membuat kita lebih aware terhadap segala hal. Top recommended adalah novel psikologi social karya Malcolm Gladwell.

Selain bacaan berat diatas, bacaan-bacaan ringan jaman kuliah yang seru juga untuk dibaca dan dijadiin selingan adalah bacaan yang mengandung cerita-cerita inspiratif karya Andrea Hirata dan novel-novel traveling karya Trinity yang selalu bikin ngiler.

Mulai kerja, saya mulai jarang membaca buku. Tapi saya sedikit demi sedikit mencoba untuk ngumpulin novel-novel berbahasa Inggris. Contohnya; Life of Pi, 100 Years Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared, dan Gone Girl.

Kebiasaan saya mulai kembali dan berlanjut lagi, ketika saya memiliki anak. Dimana dimasa ini read-aloud sedang santer digaungkan. Berbagai buku anak-anak juga mulai saya kumpulkan. Dari buku yang berlatar belakang science seperti seri "Ilmuwan Cilik" dan "Widya Wiyata Pertama". Kemudian buku anak islami juga sempat menarik perhatian saya. Recommended judul buku "The Way to Jannah" dan "My Special Angle" yang bahkan membuat emaknya ikut meleleh. Tidak lupa juga bebagai dongeng, fabel, dan kisah yang sarat pesan moral, baby book, dan masih banyak lagi.

Belum lagi, saya juga mulai menyelami buku-buku parenting macam "The Danish Way of Parenting" dan educating macam "Clever Land". Dan terus berharap agar saya dapat menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya dan selalu bisa dibanggakan. 

Intinya, saya ini memang paling “hedon” kalau masalah hunting buku di toko buku.


Postingan populer dari blog ini

Review Buku Clever Lands: Motivasi

Gegara punya anak (dan instagram), kebiasaan saya yang lama sempat menghilang. Yakni membaca dan menulis. Sekarang, sedikit sedikit saya ingin mengembalikan kebiasaan baik itu. Dimulai dari membaca. Usai membaca rasanya ingin menuangkannya dalam tulisan dan berbagi ke orang banyak. Gegara punya anak (juga), saya jadi gemar membaca buku parenting dan educating, salah satunya buku berjudul  Clever Lands.  Yang membandingkan sistem pendidikan di lima negara yang dianggap sukses dalam mendidik generasi muda. “Good education is a product of collaboration”. Dimana dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari budaya, kebijakan pemerintah, sampai taktik dan strategi untuk meningkatkan motivasi belajar dan mengajar. Motivasi adalah dorongan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang kerap terus melakukan aktivitas belajar dan mengajar. “Motivation 1.0 is simply that we have a drive for survival. Motivation 2.0 is based on the assumption that humans seek reward and avoid puni...

Obrolan di Meja Makan

Entri ini adalah kelanjutan dari obrolan gak penting di meja makan dan terkait dengan status yang dipasang salah satu temen kantor di whatsap-nya – “Menyibak Fenomenalitas Mangkuk Ayam Jago” Cerita ini timbul karena di ruang makan mess, tersedia dua jenis sendok berbeda bentuk, dimana salah satu bentuk sendok tidak lazim digunakan untuk makan. Cerita ini berlanjut ketika kami berempat berdebat mengenai bentuk sendok yang tidak lazim tersebut. Saya dan Candra merasa sendok tersebut tidak cocok digunakan untuk menyuap nasi, dikarenakan bentuknya yang bulat dan terlalu besar dan lebih cocok digunakan sebagai sendok sup. Salah satu teman membela diri dengan pernyataan bahwa sendok inilah yang biasanya digunakan orang-orang Korea untuk makan nasi. Namun, setelah kami bertiga menilik lebih lanjut, bentuk kepala sendok bisa jadi mirip dengan sendok-sendok yang biasa digunakan orang-orang Korea. Tapi dari segi panjang sendok, jelas sangat berbeda dengan sendok Korea, yang setidak...

Obrolan di “Wong Solo”

Topik kali ini bermula saat saya ditraktir seorang rekan kerja di rumah makan Wong Solo. Ketika seorang teman memesan menu cumi-cumi balado, teman saya lainnya langsung mengingatkan untuk tidak memesan es jeruk ataupun jeruk hangat. Loh? Kenapa? Saya jadi bingung sendiri. Kemudian rekan kerja saya ini mengeluarkan tablet- nya, dan membuka article di kaskus , yang menjelaskan tentang larangan memakan atau meminum jeruk setelah memakan seafood. Dan tidak tanggung-tanggung, disana dijelaskan dengan sangat frontal mengenai seorang wanita yang mengalami kondisi dimana hati, jantung, ginjal, pembuluh darahnya rusak, usus keluar darah, pembuluh darah melebar hingga wanita itu meninggal mengenaskan dengan kelima panca indera keluar darah setelah mengkonsumsi vitamin C dan sebelumnya memakan banyak udang. Nah, kalau memang benar adanya, mengapa sampai detik ini, di rumah makan yang menjual menu seafood, masih saja disediakan daftar menu minuman yang mengandung viamin C tinggi, seperti ju...