Langsung ke konten utama

Siap Belajar, Siap Menerima Tantangan, Yes Yes Yes


Seneng banget pas dapat kesempatan untuk menjadi tim pengajar, bulan November yang lalu di SDN Padang Panjang, Tanjung Tabalong. Memang, di tempat kerja saya, mulai tahun 2013 kemarin, rutin mencari para volunteer pengajar, untuk mengajar di sekolah binaan kantor per enam bulan.

Kebetulan, saya menjadi tim pengajar di kelas empat sekolah dasar. Dan, mata pelajaran yang saya ajarkan pada hari itu adalah Bahasa Inggris. Supaya proses belajarnya lebih efisien, saya menggabungkan antara mata pelajaran bahasa Inggris dengan Ilmu Pengetahuan Sosial, khususnya Geografi.

Topik bahasa Inggris yang saya ajarkan sederhana saja, yakni tentang mengenal warna dan bentuk. Yang terpenting, ading-ading semua faham artinya, penulisannya, dan cara membacanya. Warna yang diajarkan juga warna-warna dasar, seperti red, blue, green, black, yellow, white. Untuk bentuknya sendiri, yang saya kenalkan ke mereka adalah bentuk-bentuk seperti rectangle, triangle, circle, cross, diamond, star, sun, crescent. Metode pengujiannya, saya menggunakan bendera Negara-negara di dunia, yang memiliki beraneka ragam warna dan pola bentuk pada benderanya.

Green, Yellow, Blue, and White - Rectangle, Diamond, Circle, and Star

Selain mengenal warna dan pola bentuk pada bendera, ading-ading sekalian juga sekaligus memperoleh wawasan tambahan tentang asal Negara dari tiap-tiap bendera tersebut.

Games diakhir sesi mengajar, masing-masing kelompok belajar kami bagikan peta dunia, serta beberapa tusuk bendera Negara-negara di dunia. Dan, ketiga kelompok tersebut berlomba-lomba untuk mencocokkan antara bendera dengan posisi/letak Negara tersebut di peta dunia. Waaaa,, pokoknya seru banget melihat mereka heboh, sesuai dengan motto murid-murid kelas empat ketika guru bertanya,

“Bagaimana kabar kalian hari ini?”

“Siap belajar, siap menerima tantangan, Yes Yes Yes”

The Volunteers

Jerman Mana Jerman?

Yes! Yes! Yes!


Saran:
Selain pendidikan formal, sepertinya seru juga kalau kita bisa berbagi pendidikan informal kepada ading-ading kita. Contonya aja, pengetahuan tentang pertolongan pertama, ilmu tentang tali-temali, pelajaran meracik tanaman obat, dan lain-lain. Atau mungkin lebih seru lagi jika ada kegiatan outdoor, seperti menanam padi di sawah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Clever Lands: Motivasi

Gegara punya anak (dan instagram), kebiasaan saya yang lama sempat menghilang. Yakni membaca dan menulis. Sekarang, sedikit sedikit saya ingin mengembalikan kebiasaan baik itu. Dimulai dari membaca. Usai membaca rasanya ingin menuangkannya dalam tulisan dan berbagi ke orang banyak. Gegara punya anak (juga), saya jadi gemar membaca buku parenting dan educating, salah satunya buku berjudul  Clever Lands.  Yang membandingkan sistem pendidikan di lima negara yang dianggap sukses dalam mendidik generasi muda. “Good education is a product of collaboration”. Dimana dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari budaya, kebijakan pemerintah, sampai taktik dan strategi untuk meningkatkan motivasi belajar dan mengajar. Motivasi adalah dorongan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang kerap terus melakukan aktivitas belajar dan mengajar. “Motivation 1.0 is simply that we have a drive for survival. Motivation 2.0 is based on the assumption that humans seek reward and avoid puni...

Obrolan di Meja Makan

Entri ini adalah kelanjutan dari obrolan gak penting di meja makan dan terkait dengan status yang dipasang salah satu temen kantor di whatsap-nya – “Menyibak Fenomenalitas Mangkuk Ayam Jago” Cerita ini timbul karena di ruang makan mess, tersedia dua jenis sendok berbeda bentuk, dimana salah satu bentuk sendok tidak lazim digunakan untuk makan. Cerita ini berlanjut ketika kami berempat berdebat mengenai bentuk sendok yang tidak lazim tersebut. Saya dan Candra merasa sendok tersebut tidak cocok digunakan untuk menyuap nasi, dikarenakan bentuknya yang bulat dan terlalu besar dan lebih cocok digunakan sebagai sendok sup. Salah satu teman membela diri dengan pernyataan bahwa sendok inilah yang biasanya digunakan orang-orang Korea untuk makan nasi. Namun, setelah kami bertiga menilik lebih lanjut, bentuk kepala sendok bisa jadi mirip dengan sendok-sendok yang biasa digunakan orang-orang Korea. Tapi dari segi panjang sendok, jelas sangat berbeda dengan sendok Korea, yang setidak...

Obrolan di “Wong Solo”

Topik kali ini bermula saat saya ditraktir seorang rekan kerja di rumah makan Wong Solo. Ketika seorang teman memesan menu cumi-cumi balado, teman saya lainnya langsung mengingatkan untuk tidak memesan es jeruk ataupun jeruk hangat. Loh? Kenapa? Saya jadi bingung sendiri. Kemudian rekan kerja saya ini mengeluarkan tablet- nya, dan membuka article di kaskus , yang menjelaskan tentang larangan memakan atau meminum jeruk setelah memakan seafood. Dan tidak tanggung-tanggung, disana dijelaskan dengan sangat frontal mengenai seorang wanita yang mengalami kondisi dimana hati, jantung, ginjal, pembuluh darahnya rusak, usus keluar darah, pembuluh darah melebar hingga wanita itu meninggal mengenaskan dengan kelima panca indera keluar darah setelah mengkonsumsi vitamin C dan sebelumnya memakan banyak udang. Nah, kalau memang benar adanya, mengapa sampai detik ini, di rumah makan yang menjual menu seafood, masih saja disediakan daftar menu minuman yang mengandung viamin C tinggi, seperti ju...